Breaking News
Loading...
  • SMABA
  • ROHIS
  • PMR

TONTI SMABA

tonti sma negeri 1 banguntapan

Recent Post

UPACARA SPESIAL ULANG TAHUN SMABA

UPACARA SPESIAL ULANG TAHUN SMABA

sma1banguntapan.sch.id, Di ulang tahun yang ke 30 ini merupakan hari yang istimewa bagi sma negeri 1 banguntapan.Karena bertepatan juga dengan LUSTRUM yang ke VI.Pada saat Hari H dari ulang tahunnya sma negeri 1 banguntapan mengadakan beberapa kegiataan yang bisa terihat di gambar di bawah ini
Foto-foto diatas diambil pada saat upacara bendera memperingati hari ulang tahun sma negeri 1 banfuntapan yang ke 30 tahun.Dalam foto di atas terlihat Bapak Kepala dinas menengah dan nonformal kabupaten bantul berdiri di tengah sebagai Pembina upacara.dalam amanat yang beliau berikan,beliau menyampaikan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak hanya mampu meluuskan semua sisiwa-siswanya saja.Akan tetapi sekolah yang baik adalah sekolah yang bisaturut membantu kelanjutan setelah si anak didiknya lulus sekolah juga.Baik itu dalam kelanjutan pendidikannya ataupun dalam rekrutment dalam hal pekerjaan.Oleh karena itu SMA NEGERI 1 BANGUNTAPAN saat ini juga mulai berbenah diri untuk mempererat hubungan dengan Alumni dengan membentuk suatu wadah ALUMNI yang resmi diakui oleh sekolah.yang nantinya input-input negatif dari luar bisa sangat diminimalisir.
SEJARAH PASKIBRAKA

SEJARAH PASKIBRAKA

 Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas. Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. 
Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta. Tahun 1967 Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soeharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:
  • Pasukan 17 / pengiring (pemandu),
  • Pasukan 8 / pembawa bendera (inti),
  • Pasukan 45/pengawal.

  • Idik Sulaiman, Sang Pencetus Istilah Paskibraka
Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945(17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.
Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.
Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri.
Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.
 PAWAI DAN DRUM BAND HUT RI KE 7O DI LAPANGAN TRIRENGGO

PAWAI DAN DRUM BAND HUT RI KE 7O DI LAPANGAN TRIRENGGO



Pada hari Selasa, 18 Agustus 2015 pkl. 13.00 Wib Ada yang sediikit berbeda di Lapangan  Trirenggo Bantul.Karena pada hati itu tengah berlangsung kegiatan Lomba Pawai dan  Drum Band dalam rangka peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI Tahun 2015 di  Kabupaten Bantul.yanf deselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Menengah dan Non  Formal Kab. Bantul dan Kantor Pemuda dan Olah Raga Kab. Bantul,


Kegiatan yang dihadiri Pejabat Forkopinda Kab. Bantul, Pejabat SKPD di lingkungan Kab.  Bantul, Staf Ahli Bupati Bantul Drs. Maman Permana selaku pelepas bendera start ini tela menyedot animo masyarakat sekitar untuk menonton acara tersebut.karen terbukti dengan kurang lebih ada sekitar 8.000 orang pengunjung dare warga masyarakat Bantul.
Lomba Pawai dengan bentuk gerak jalan kreatif, diikuti oleh 43 SMA, 48 SMP dan 19 SD. Adapun rute lomba untuk SD/Sederajat yaitu Lapangan Trirenggo (Start) – Polsek Bantul – S5 Bejen – Bank Bantul/Lap. Paseban (Finish). Untuk SMP/Sederajat, SMA/Sederajat yaitu Lapangan Trirenggo (Start) – Polsek Bantul – S5 Bejen – S4 Gose – Masjid Agung Manunggal Bantul (Finish). Dan unsur penilaian yaitu keutuhan regu, Keserasian dan Kreativitas serta Semangat.
Terlepas dari itu semua SMA NEGERI 1 banguntapan juga turut serta meramaikan kegiatan tersebut dengan mengirimkan pleton – pleton inti andalan yang ada.
sumber :Sihumas Sek Bantul
Copyright © 2014 TONTI SMA NEGERI 1 BANGUNTAPAN All Right Reserved
Designed by SMA N 1 BANGUNTAPAN